| Ini adalah Blog Indonesia saya | Blog Inggris | Blog Non-Serious |
| This is my English Blog | English Blog | Non-Serious Blog |
Tampilkan postingan dengan label Lion Air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lion Air. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 September 2012

Lion Air dan Malindo Airways - Maskapai mana yang menjadi sasaran?

AirDrama: Terbawa asyiknya meledek Malaysia Airlines, mungkinkah Air Asia
adalah target serangan Lion Air di Malaysia melalui Malindo Airways?

(Artwork by: Rimanti N)
Setelah Lion Air mengumumkan Malindo Airways kemarin, beberapa pertanyaan timbul di benak pikiran saya:
  • Pemegang saham lokal Malindo adalah National Aerospace & Defence Industries (NADI), sebuah BUMN Malaysia. Mungkinkah NADI mendirikan maskapai penerbangan dengan mitra asing hanya untuk bersaing dengan maskapai BUMN mereka (Malaysia Airlines)? Siapa yang dibidik oleh Malindo? Mungkinkah politisi Malaysia frustrasi dengan di Malaysia Airlines + Firefly yang tidak maju²? Atau mungkin yang dibidik adalah Air Asia (Apa Tony Fernandes telah membuat beberapa politisi Malaysia jengkel)?
  • Dengan meningkatknya kekuatan regional Air Asia, Tony akan harus menghabiskan waktu diluar Malaysia... Dengan makin dekatnya pemilihan umum di Malaysia, mungkinkah 'minggat'-nya Tony Fernandes yang menjadi dasar kekecewaan mereka?
  • Pengumuman Malindo kemarin dihadiri oleh Perdana Menteri Malaysia Najib. Pemilihan umum mendekat, dan Tony Fernandes telah lari ke Jakarta ... Apakah Najib kesal?
  • Dalam waktu 24 jam dari pengumuman Malindo Airways, Lion Air membuka Bandung-Kuala Lumpur yang selama ini adalah salah satu harta-karunnya grup Air Asia. Timingnya memang sedikit mencurigakan.
Air Asia Tony Fernandes kemarin men-tweet:
"I think Malindo is more problematic for Malaysian Airlines not AirAsia. We have very strong position in Malaysia and are really a regional company."
Saya tidak heran membaca dan tidak menyangkal pemikiran tersebut, namun apakah mungkin para politisi Malaysia sudah jenuh akah ledekan terus menerus dari Tony terhadap Malaysia Airlines?

Kebetulan, kemarin, korban ledekan Tony Fernandes yang lainnya, Tiger Airways, mengumumkan hasil keuangan yang melebihi perkiraan. Tiger sendiri sedang mencoba untuk mengkokohkan hasil ekspansinya di Australia, Indonesia dan Filipina. Kucing² besar di Asia Tenggara sudah tidak selemah dulu dan mungkin saja target mereka adalah Air Asia, dan keyakinan Tony akan kekuatan regional mereka membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak mungkin bisa roboh akibat langkah² kucing² besar ini? Apa saya harus menunggu sampai Tony mulai mengeledek Jetstar untuk mengetahui jawabannya? Atau memang sudah jelas jawabannya?

Namun ada satu hal yang saya setuju dengan Tony Fernandes tentang Malindo Air:
"Why is the airline not called Lion Air Malaysian. Strange"

Selasa, 11 September 2012

Malindo Airways - Lion Air mengaum di negeri jiran!

Lion Air dan National Aerospace & Defence
Industries Malaysia bekerjasama untuk membuka
maskapai Malindo Airways di Malaysia

Lion Air hari ini mengumumkan kerjasamanya dengan National Aerospace & Defence Industries Malaysia untuk bersama membuka maskapai penerbangan Malindo Airways.

Rangkuman yang didapatkan dari sumber² yang menghadiri acara di Kuala Lumpur tersebut:
  • Malindo akan memberikan pelayanan hybrid (antara LCC dan full service carrier).
  • Malindo will provide a hybrid service (between LCC and full service carrier).
  • Malindo akan beroperasi dari KLIA2 yang sedang dibangun di Bandara Kuala Lumpur atas permintaan Air Asia Malaysia.
  • Malindo akan mulai beroperasi di bulan Mei 2013 dengan 12 737-900ER dengan 12 kursi bisnis dan 168 kelas ekonomi, dan dilengkapi dengan In-Flight Entertainment dan WiFi.
  • Malindo berencana menambah armada sebesar 12 pesawat per tahun dan akan mengoperasikan 100 pesawat dalam jangka waktu 10 tahun.
  • Pesawat Boeing 787 akan digunakan mulai dari tahun 2015.
  • Harga tiket dan layanan lainnya ditargetkan tidak lebih mahal atau akan lebih murah dibanding Air Asia.

Secara tidak langsung, kita bisa menafsirkan yang berikut untuk/mengenai Lion Air:
  • Lion Air melihat bahwa pertumbuhannya di Indonesia akan terbatas dan lamban karena infrastruktur dan prasarana yang kurang, seperti habisnya tempat parkir pesawat di kebanyakan bandara (yang bisa menampung pesawat jet) di Indonesia.
  • Lion Air masih harus menerima BANYAK pesawatnya yang dipesan dan sulit untuk delivery-nya ditunda. Pesawat² ini harus digunakan, dan akan dialihkan untuk membangun Malindo dan Batik Air.
  • Sebagian dari 787 yang dipesan untuk Batik Air kemungkinan akan digunakan oleh Malindo, sedangkan Lion sedang menegosiasikan penambahan pemesanan 787.
  • Lion Air melihat bahwa pertumbuhan yang cepat hanya bisa dilakukan diluar Indonesia, dan Lion Air sudah lama mengetahui ini dan sering berencana untuk membuat anak perusahaan atau kemitraan dengan pihak lain untuk membuat maskapai penerbangan di negara lain. Namun selama ini rencana² tersebut gagal (menurut pendapat saya, dikarenakan pemilihan partner² yang kurang/tidak tepat) dan Malindo merupakan rencananya yang paling realistis hingga saat ini.
  • Pertumbuhan di sektor premium melalui Batik Air tidak akan bisa secepat yang diinginkan, lagi², dikarenakan keterbatasan infrastruktur yang ada di Indonesia.
  • Pengumuman ini secara efektif mengakhiri spekulasi yang timbul sebelumnya bahwa Lion Air berencana untuk bekerjasama dengan Berjaya Air Malaysia untuk membuat Lion Berjaya Air (dan setahu saya, rencana Lion Air Australia yang diumumkan sebelumnya pun sudah batal namun tidak menutup kemungkinan Lion masih berencana untuk masuk ke pasar domestik Australia).

Efek ke pihak Malaysia:
  • Air Asia Malaysia sekarang mendapat kompetisi yang serius. Sumber² di dalam Air Asia mengabarkan bahwa Tony Fernandes tidak khawatir dengan Lion Air di Indonesia, namun melihat ancaman serius dari pengembangan bisnis non-LCC yang direncanakan oleh Lion Air (seperti Malindo dan Batik Air).
  • Firefly harus mengambil strategi yang jelas dan tidak terus me-rubah² rencana strategi mereka. Strategi bingung mereka antara memilih perkembangan jangka panjang denganjet, propeller, atau dua²nya selama ini hanya membuat mereka dekelilingi oleh Air Asia, dan dengan adanya Malindo nantinya, Firefly bisa saja menjadi pihak yang paling dirugikan (atas salahnya sendiri).
  • Tantangan bagi Malaysia Airlines menjadi jauh lebih berat dengan adanya Malindo. Pada saat ini mereka sedang was² dengan perkembangan rencana mereka untuk bergabung dengan aliansi OneWorld yang di sponsori oleh Qantas, karena Qantas minggu lalu memutuskan untuk berhenti bekerjasama dengan British Airways (yang juga anggota OneWorld) dan pindah ke Emirates. Tentunya segment pasar atas mereka akan terus tergerogoti oleh strategi regional Qantas di Asia, dan datangnya Malindo hanya akan menambah beban dan tangtangan di kandang mereka sendiri.


Dalam beberapa tahun kemarin, Lion Air memang telah banyak mengumumkan rencana² joint-venture atau membangun anak perusahaan diluar Indonesia, dan tidak ada satupun yang berhasil. Malindo merupakan langkah paling berani dalam aspek ini, dan kali ini didukung oleh partner lokal yang bonafit yaitu NADI yang merupakan salah satu perusahaan strategis Malaysia, dan acara pengumuman tersebut pun didukung oleh kehadiran perdana menteri Malaysia, Najib.

Sepertinya kali ini, Singa yang satu in benar² serius untuk keluar dari kandangnya dengan rencana yang cukup matang.

Selasa, 10 April 2012

Nasib Merpati: mangsa diantara predator raksasa


Kisah sedih yang berkelanjutan...
Sudah hampir setahun sejak saya menulis "The Merpati question: How do you rescuscitate a dead pigeon" dan ulang tahun ke-50 nya Merpati akan tiba di bulan September.

Kita sering mendengan perubahan di maskapai BUMN utama negara kita, Garuda, yang akhirnya mencetak keuntungan, sedangkang performa Merpati terus tidak jelas. Saya berpikir, bisa seberapa buruk lagi sih?

Dumelan Presdir Merpati didepan komisi 6 DPR tahun kemarin yang mengatakan, "Perhatikan, LCC Air Asia. Beda. Harus dilihat ada pelanggaran tidak? Regulasi, perlu ditanyakan. Mana ada penerbangan dengan Airbus rute pendek menguntungkan" kedengarannya aneh karena ujung-ujungnya Merpati malah berencana menambahkan armada Airbus A320 untuk beroperasi tahun ini.


Lalu Oktober 2011, Pertamina menghentikan pemasokan bahan bakar Merpati yang dilakukan dengan kredit, dengan alasan hutang pembelian bahan bakar merpati telah mencapai $62.15 juta. Pasokan bahan bakar dengan cepat-cepat dipulihkan setelah PT Perusahaan Pengelola Aset memberikan jaminan bagi restrukturisasi hutang Merpati tersebut dengan nilai $63.34 juta.

Is the MA-60 the current flagship
of Merpati?
Di Singapore Airshow (Februari) 2012, Merpati menandatangani MOU dengan COMAC untuk 40 ARJ21-700, dimana jika menjadi firm order, Merpati akan menjadi operator ARJ21 terbesar diluar Cina. Anehnya, COMAC  enggan berita ini dipublikasi diluar Cina dan Indonesia , dan meminta wartawan luar yang hadir untuk tidak memuat berita tersebut, padahal kabar tersebut dimuat dibanyak media di Indonesia. Aneh, tapi saya tidak heran karena Merpati juga memiliki armada AVIC MA-60 terbesar di dunia, sedangkan pesawat tersebut tidak laku (termasuk di Cina).

Lalu beberapa hari yang lalu, video untuk ulang tahun Merpati yang ke-50 ditemukan di situs Youtube.


Pengertian saya, intisari video tersebut adalah: "Ya, kita pernah bikin salah, jadi sekarang kita akan lebih baik. Kita minta ma'af dan kita akan berubah, karena ini satu-satunya cara agar Merpati tidak tutup. Sekarang kita memiliki armada MA-60 yang nyaman, jadi yang harus kita lakukan adalah mengisinya dengan penumpang, tanpa alasan." Lucunya, video tersebut diakhiri dengan kata-kata, "Melakukan yang tidak mungkin!"

Garuda could end up operating the
Dash8-Q400
Kasak-kusuk mengenai apakah Merpati layak untuk diselamatkan terus terjadi hingga saat ini. Pertanyaan prinsip yang timbul adalah, "apa tugas Merpati sebagai maskapai milik negara?" Namun sebelum ada ringkasan jawaban-jawaban pertanyaan tersebut, ancaman baru bagi masa depan Merpati timbul hari ini dengan pengumuman Garuda berencana untuk menggunakan ATR72 atau Bombardier Q400 untuk rute-rute tipis di Indonesia timur yang dimuat di majalah situs Flightglobal.


A Wings Air ATR72 about to land
at Denpasar's Airport, Bali
Realisasi rencana Garuda ini nantinya berkompetisi  langsung dengan pengoperasian pesawat ATR Wings Air (bagian dari grup Lion Air), namun penggunaan kata-kata "untuk melayani rute-rute tipis di Indonesia timur" berarti Garuda berencana untuk menyerang kue pasar tradisionalnya Merpati (atau sisa-sisa apapun yang masih ada dari kue Merpati tersebut setelah diserbu oleh Wings Air)!




Pada ulang tahun Merpati yang ke-50, burung Garuda yang raksasa seakan bersiap-siap untuk memangsa si Merpati yang sepertinya masih kebingungan dengan serangan ATR dari si Singa Merah (Lion Air), yang mengumumkan serangannya di sekitar ulang tahun Merpati yang ke-45, 5 tahun yang lalu.

Apakah sang Merpati sanggup menahan serangan sang Garuda dan sang Singa? Manakah yang lebih baik? Berhenti memberi makanan mengandung steroid kepada si Merpati dan memanggangnya untuk dijual sebagai makanan mumpung masih ada nilainya? Atau, terus memberikan makanan kepada si Merpati seperti binatang piaraan di tengah hutan dimana si Garuda dan si Singa siap untuk ramai-ramai melahapnya hidup-hidup?