Kita sering mendengan perubahan di maskapai BUMN utama negara kita, Garuda, yang akhirnya mencetak keuntungan, sedangkang performa Merpati terus tidak jelas. Saya berpikir, bisa seberapa buruk lagi sih?
Dumelan Presdir Merpati didepan komisi 6 DPR tahun kemarin yang mengatakan, "Perhatikan, LCC Air Asia. Beda. Harus dilihat ada pelanggaran tidak? Regulasi, perlu ditanyakan. Mana ada penerbangan dengan Airbus rute pendek menguntungkan" kedengarannya aneh karena ujung-ujungnya Merpati malah berencana menambahkan armada Airbus A320 untuk beroperasi tahun ini.
Lalu Oktober 2011, Pertamina menghentikan pemasokan bahan bakar Merpati yang dilakukan dengan kredit, dengan alasan hutang pembelian bahan bakar merpati telah mencapai $62.15 juta. Pasokan bahan bakar dengan cepat-cepat dipulihkan setelah PT Perusahaan Pengelola Aset memberikan jaminan bagi restrukturisasi hutang Merpati tersebut dengan nilai $63.34 juta.
Di Singapore Airshow (Februari) 2012, Merpati menandatangani MOU dengan COMAC untuk 40 ARJ21-700, dimana jika menjadi firm order, Merpati akan menjadi operator ARJ21 terbesar diluar Cina. Anehnya, COMAC enggan berita ini dipublikasi diluar Cina dan Indonesia , dan meminta wartawan luar yang hadir untuk tidak memuat berita tersebut, padahal kabar tersebut dimuat dibanyak media di Indonesia. Aneh, tapi saya tidak heran karena Merpati juga memiliki armada AVIC MA-60 terbesar di dunia, sedangkan pesawat tersebut tidak laku (termasuk di Cina).
Lalu beberapa hari yang lalu, video untuk ulang tahun Merpati yang ke-50 ditemukan di situs Youtube.
Pengertian saya, intisari video tersebut adalah: "Ya, kita pernah bikin salah, jadi sekarang kita akan lebih baik. Kita minta ma'af dan kita akan berubah, karena ini satu-satunya cara agar Merpati tidak tutup. Sekarang kita memiliki armada MA-60 yang nyaman, jadi yang harus kita lakukan adalah mengisinya dengan penumpang, tanpa alasan." Lucunya, video tersebut diakhiri dengan kata-kata, "Melakukan yang tidak mungkin!"
Kasak-kusuk mengenai apakah Merpati layak untuk diselamatkan terus terjadi hingga saat ini. Pertanyaan prinsip yang timbul adalah, "apa tugas Merpati sebagai maskapai milik negara?" Namun sebelum ada ringkasan jawaban-jawaban pertanyaan tersebut, ancaman baru bagi masa depan Merpati timbul hari ini dengan pengumumanGaruda berencana untuk menggunakan ATR72 atau Bombardier Q400 untuk rute-rute tipis di Indonesia timuryang dimuat di majalah situs Flightglobal.
Realisasi rencana Garuda ini nantinya berkompetisi langsung dengan pengoperasian pesawat ATR Wings Air (bagian dari grup Lion Air), namun penggunaan kata-kata "untuk melayani rute-rute tipis di Indonesia timur" berarti Garuda berencana untuk menyerang kue pasar tradisionalnya Merpati (atau sisa-sisa apapun yang masih ada dari kue Merpati tersebut setelah diserbu oleh Wings Air)!
Pada ulang tahun Merpati yang ke-50, burung Garuda yang raksasa seakan bersiap-siap untuk memangsa si Merpati yang sepertinya masih kebingungan dengan serangan ATR dari si Singa Merah (Lion Air), yang mengumumkan serangannya di sekitar ulang tahun Merpati yang ke-45, 5 tahun yang lalu.
Apakah sang Merpati sanggup menahan serangan sang Garuda dan sang Singa? Manakah yang lebih baik? Berhenti memberi makanan mengandung steroid kepada si Merpati dan memanggangnya untuk dijual sebagai makanan mumpung masih ada nilainya? Atau, terus memberikan makanan kepada si Merpati seperti binatang piaraan di tengah hutan dimana si Garuda dan si Singa siap untuk ramai-ramai melahapnya hidup-hidup?
Ketika Garuda mengumumkan di bulan Februari bahwa mereka akhirnya mereka memilih CRJ1000NG untuk 100-seater mereka dan bukan E190, banyak yang kaget. Alasan yang diberikan pada saat itu adalah "alasan-alasan non-teknis", tentunya ini membikin banyak orang penasaran.
Dibanding CRJ1000NG, E190 memiliki kabin yang lebih tinggi dan volume yang lebih besar, dan operating cost yang rendah. Biaya pengoperasian yang rendah ini telah menjadi pusat perdebatan antara supporter CRJ melawan supporter Ejets, dan CRJ mengklaim biaya pengoperasian yang lebih rendah. Namun, setelah lebih dari 15 tahun mengikuti debat Boeing vs Airbus, kita juga tahu bahwa operating cost itu hanyalah salah satu bagian dari perhitungan potensi keuntungan, bagian lainnya tentunya adalah potential revenue.
Lalu kenapa sebuah airline yang sedang sangat gencar memperbaiki sisi passenger experience nya memilih pesawat kecil yang sempit, dengan volume kabin per penumpang yang lebih kecil, dan volume ruang bagasi per penumpang yang lebih kecil, jika dibandingkan E190, untuk pesawat yang dikabarkan akan menggantikan Boeing 737-500 nya?
Jika daya ingat saya tidak menipu diri saya sendiri, di seminar IAFS Airlines Day yang diselenggarakan belum lama ini, Garuda mengakui bahwa pemilihan CRJ1000NG menimbulkan sedikit kekhawatiran diantara grup dialog frequent fliers nya (terdiri dari penumpang-penumpang frequent fliers Garuda yang paling sering terbang). Lalu kenapa? Garuda juga mengatakan bahwa kemungkinan mengadakan point-to-point services dan delivery slot yang lebih cepat menjadi alasan yang sangat kuat.
Namun seseorang dari Embraer yang hadir juga dalam seminar tersebut sempat mengatakan kepada saya bahwa di dunia ini pada saat ini hanya ada 2 (ya, cuman DUA) pengguna CRJ1000NG (Air Nostrum dari grup Iberia, dan Brit Air dari grup Air France), dan customer base untuk CRJ family di Asia jauh lebih kecil dibanding untuk Ejets, dan tentunya mengatakan bahwa pilihan Garuda tersebut bisa menjadi buah simalakama dalam waktu yang sangat cepat (beliau bahkan mengatakan menunggu untuk bisa mendapatkan Boeing 737-600/700 atau A318/319, bahkan menunggu Bombardier C-Series, bisa dibilang adalah pilihan yang lebih cocok jika Garuda ngotot untuk tidak menggunakan Ejets).
Saya pulang dari seminar tersebut dihantui dengan pertanyaan KENAPA? Lalu saya menemukan video ini, dan mungkin.... mungkin saya, alasan sebenarnya ada di video ini...
Gila? Tentu saya, tapi ini Indonesia! Jika memang ujung-ujungnya alasan kenapa mereka memilih CRJ1000NG adalah karena mereka bisa melakukan push-back setelah engine start cukup dengan tenaga otot, yah saya nggak akan kaget! Lagipula, Garuda berencana untuk menerbangkan pesawat ini ke kota-kota tujuan yang belum pernah didarati pesawat jet Garuda sama sekali sebelumnya...
Jika anda tidak bisa melihat sisi humor dari parodi ini, yah mohon ma'af!
Karena kita tidak pernah sempat melihat hasil super merger pabrik-pabrik pesawat Amerika menjadi McDonRop BoHeed, mungkin lebih baik saya lempar yang satu ini. Palingan fans berat dari masing-masing Airbus dan Boeing yang selalu berantem mengenai mana yang paling bagus, akan bingung melihat ini.
Eh, beneran deh! Debat kusir Airbus vs Boeing tuh sangat membosankan. Kapan yah ada Bombardier vs Embraer?