| Ini adalah Blog Indonesia saya | Blog Inggris | Blog Non-Serious |
| This is my English Blog | English Blog | Non-Serious Blog |
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

Kapan FAA bisa tidak munafik?

Regulator penerbangan sipil Amerika Serikat, Federal Aviation Administration secara berkala meng-audit regulator penerbangan sipil negara² lain untuk menilai kinerja dan penerapan peraturan dari ICAO. Namun dalam hal ini ada sesuatu yang selalu mengganggu dibenak pikiran saya. FAA ini sudah beberapa kali meng-audit negara lain sampai memberikan sanksi (seperti "country category rating) berdasarkan kemampuan menerapkan peraturan ICAO, namun pernahkah mereka menghukum diri mereka sendiri?

Saya masih ingat argumen² pro-kontra dikalangan penerbang Amerika ketika FAA merubah penggunaan kata² untuk pesawat masuk ke runway dan ber-siap² untuk mengunggu ijin lepas-landas. FAA menggunakan kata² "position and hold" dan seluruh dunia menggunakan "line up and wait". Banyak sekali penerbang bahkan petugas ATC di Amerika yang tidak setuju dengan perubahan ini bahkan sampai ada yang mengatakan perubahan ini membahayakan keselamatan terbang! Ma'af saja, jika mereka ingin berbicara mengenai safety, mari kita ingat² kejadian² petugas ATC di New York JFK yang terkenal sedikit "kejam" dengan penerbang² dari negara² yang bahasa Inggrisnya kurang bagus (padahal penerbang² tersebut dinegara lain diperlakukan dengan baik meskipun ketika ada masalah pengertian bahasa). Jangan lupa cara ATC New York JFK ini berbicara cepat dengan bahasa Inggris yang tidak sesuai dengan ICAO-English, bahkan sampai menghina penerbang² asing tersebut dengan "do you understand English" diteriakkan di frekwensi mereka. Padahal pada saat yang sama, pilot² Amerika banyak yang mengeluh ketika terbang ke negara² yang memperbolehkan bahasa non-Inggris untuk digunakan di radio, seperti Spanyol, Prancis dan Rusia, dan mereka mengeluh bahwa penggunaan bahasa² non-Inggris akan menurunkan kewaspadaan bersama di langit yang padat akan pesawat dan kebiasaan penggunaan bahasa lain tersebut sebaiknya dihentikan.

Lucu kan? Menurut sudut pandang saya yang tidak terlalu serius ini: Bagaimana jika ini semua dimulai dengan Amerika menghentikan penggunaan kata-kata standard FAA diatas langit Amerika dan mulai menggunakan kata-kata standard ICAO, baru setelah itu kita bisa bicara masalah bahasa penerbangan yang serasi!

Gambar diambil dari: http://www.facebook.com/cleared4takeoff



Tentunya, yang saya tulis diatas tidaklah 100% serius maupun tepat, yang saya tulis hanyalah sudut pandang saya saja, namun isu masalah perbedaan penggunaan bahasa ini terus menjadi sumber perdebatan penggunaan bahasa Inggris di penerbangan di dunia!

Selasa, 22 Januari 2013

Ganti ekor pesAAwAAtnyAA dong!


Livery baru American Airlines bisa dibilang adalah sebuah mimpi buruk, mungkin untuk pertama kalinya sebuah pemberontakan di media sosial terjadi bagi airline yang meluncurkan livery baru. Kawab blogger dan twitter saya, @9VSKA dari blog UxMilk.com me-tweet sebuah artikel yang dia temukan: Tear down that tail, American Airlines !

Singkatnya, sebuah grup Facebook bernama "Fix the tAAil" yang dibilang beranggota kalangan penggemar dan profesional bisnis penerbangan memuat alternatif-alternatif livery baru bagi American Airlines.

Pilihan yang ditayangkan oleh Skift.com menurut saya adalah yang terbaik dari semua livery yang dimuat di grup Facebook tersebut:




Sekarang, siapa yang membuat kedua desain ini? Menurut saya ini jauh lebih bagus daripada desain livery baru American Airlines!

Senin, 21 Januari 2013

Jadwal awal 777-300ER Garuda dibuka


Menurut Airlineroute.net, Garuda Indonesia berencana mulai mengoperasikan 777-300ER di bulan Juli 2013.

Rute awal adalah Jakarta-Jeddah 2x sehari (kecuali Sabtu  dari Jakarta dan Jumat dari Jeddah yang hanya dilayani 1x sehari) mulai tanggal 1 Juli 2013 hingga 19 Agustus 2013. Setelah itu penerbangan reguler Jakarta-Jeddah dihentikan selama musim libur lebaran dan dimulai kembali pada 20 September. Pesawat 747-400 yang biasanya menerbangkan rute ini dipindah untuk melayani rute baru, Surabaya-Medan-Jeddah 7x seminggu mulai 1 Agustus hingga 19 Agustus.

Jadwal 777-300ER antara 19 Agustus dan 19 September 2013:
Denpasar-Tokyo Haneda dilayani setiap hari dengan 777-300ER dan dilanjut dengan Denpasar-Jakarta setiap hari (GA405/406).
Jakarta-Tokyo Narita akan dilayani 6x seminggu dengan 777-300ER dan 1x seminggu dengan A330-200 (CGK berangkat Jumat, NRT berangkat Sabtu).

Untuk lebih lanjut, silahkan kunjungi halaman di Airlineroute.net dengan klik link ini.

Livery baru American Airlines kok mirip dengan...

Ketika American Airlines mengumumkan livery baru mereka, saya hanya bisa bengong.

Livery baru American Airlines
Tidak, saya tidak bengong karena terkesima dengan cantiknya livery baru mereka... justru saya hanya bisa geleng-geleng kepala sulit mempercayai apa yang telah mereka lakukan.

Melihat livery baru tersebut saya malah sempat berpikir, apakah Kuba dan Amerika Serikat tiba-tiba berencana menjadi 2 negara yang sahabat? Coba lihat livery American Airlines yang baru dengan:
Pesawat Boeing 757 American Airli... EH SEBENTAR!
MA'AF! Setelah saya pasang kacamata saya ternyata
fotonya adalah pesawat Tupolev Tu-204 milik Cubana.
Sungguh minta ma'af!
Saya sempat berpikir, sudahlah, biarkan livery baru ini berlalu dan berharap akan diganti lagi dalam waktu dekat. Namun, pikiran saya yang sudah berhasil tenang kembali, terguncang lagi ketika melihat:
Iya, setuju! Sangat mencurigakan!
Apakah artinya merger American Airlines dengan US Airways batal dan diganti dengan merger antara American Airlines dan Colgan Air dimana perusahaan pasca-merger-nya akan diberikan suntikan dana oleh Fidel dan Raul Castro sebagai tanda persahabatan antara Cuba dan Amerika Serikat dengan maskapai Cubana sebagai pemegang saham terbesar AMR Group?

Tentu saya hanya berguyon saja diatas. Namun, menurut pendapat serius saya, bukannya lebih baik jika motif di ekor livery American Airlines yang baru menggunakan gambar logo elang barunya?

DEMI TUHAN, GANTI ITU BENDERA DI EKOR DENGAN GAMBAR ELANGNYA INI!


Minggu, 20 Januari 2013

Garuda rencana kembali ke London bulan Oktober 2013


Selagi mengunjungi Inggris, Vice President Marketing Garuda Indonesia, Amelia Syafrina Dewi Nasution, belum lama ini mengumumkan bahwa Garuda Indonesia akan kembali melayani London, kali ini dengan penerbangan non-stop.
"Layanan rute ini akan mulai bulan Oktober tahun ini dan akan menjadi penerbangan non-stop berjadwal pertama antara Jakarta dan London. Jadwal dan harga sedang di finalisasi dan informasi sepenuhnya akan diumumkan sebelum tiket untuk rute ini dijual di bulan April."

Garuda berencana akan menerima 4 Boeing 777-300ER pesanannya. Sebelumnya diperkirakan bahwa Boeing 777-300ER Garuda akan digunakan untuk menerbangkan rute Jakarta-Amsterdam non-stop menggantikan rute Jakarta-Abu Dhabi-Amsterdam yang saat ini menggunakan pesawat A330-200. Setelah dibukanya Jakarta-Amsterdam non-stop, kalangan industri penerbangan baik dalam maupun luar negeri mengira bahwa Garuda akan membuka Jakarta-Abu Dhabi-Frankfurt sambil menunggu pesawat 777-300ER ke-4 tiba sebelum menggantikan rute tersebut dengan rute non-stop. Tentunya, pengumuman Jakarta-London non-stop merubah perkiraan dan rencana yang telah ada sebelumnya, namun jumlah frekwensi penerbangan Jakarta-London ini masih sebuah misteri. Pesawat Boeing 777-300ER Garuda akan dilengkapi dengan 184 kursi kelas ekonomi, 42 kursi flat-bed kelas bisnis, dan 8 half-cabin kelas utama.

Berita ini ditemukan di situs Alternative Airlines, yang merupakan bagian dari General Sales Agent Garuda Indonesia di Inggris, Flight Directors. Berita ini melanjutkan pengumuman oleh Direktur Utama Emirsyah Satar di bulan Desember yang mengatakan bahwa Garuda berencana kembali terbang ke London di akhir 2013 atau awal 2014. Beliau juga mengatakan bahwa ada sekitar 5.000 penumpang yang terbang antara Indonesia dan Inggris setiap harinya.

Penyebab kecelakaan Sukhoi: Sepele tetapi mematikan!

Versi dari artikel ini juga dimuat di majalah Sindo Weekly pada tanggal 10 Januari 2013 dengan judul "Sepele Berujung Petaka." Link ke artikel online di Sindo Weekly akan dimuat disini jika sudah tersedia. 

Dengan meningkatnya tingkat keselamatan dalam penerbangan di dunia, faktor-faktor penyebab setiap kecelakaan yang kompleks akan semakin sepele atau semakin misterius. Peningkatan keselamatan dilakukan dengan mentargetkan perbaikan faktor-faktor penyebab yang berakibat berbahaya namun mudah diperbaiki, lalu yang susah diperbaiki, kemudian siklus tersebut diulang kembali untuk faktor-faktor penyebab yang berakibat bahaya lebih rendah. Inilah perbaikan terus-menerus ini dilakukan agar kita bisa menikmati tingkat keselamatan penerbangan yang tinggi.

Sepele atau misterius dan sulit dimengerti?

Trajectory akhir menimbulkan 

banyak pertanyaan. (Sumber: KNKT)
Namun apakah musibah Sukhoi ini diakibatkan oleh faktor-faktor yang sepele atau yang misterius dan sulit dimengerti? Menjelaskan kenapa sebuah pesawat yang tergolong mutakhir bisa menabrak gunung tanpa mengalami kerusakan sebelumnya memang sulit apapun faktor penyebabnya, namun lebih sulit lagi untuk kita bisa menjelaskan dan menerima bahwa faktor-faktor penyebab kejadian ini adalah hal-hal yang sepele.


Spekulasi-spekulasi mengenai adanya bom, pembajakan, atau pesawat melakukan manuver-manuver yang bersifat adu nyali seperti yang kita lihat di pameran-pameran kedirgantaraan, hanyalah spekulasi mimpi demi mencari jawaban yang mudah dan cepat. Ketidak cocokan jawaban-jawaban pintas tersebut dengan kenyataan akhirnya mengarah ke tuding-tudingan mencari siapa yang salah dan tentunya, akan jauh mudah untuk menyalahkan mereka yang sudah tiada dibanding memberbaiki kita-kita yang masih hidup untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut.

Laporan akhir KNKT mengenai musibah yang menimpa Sukhoi Superjet 9 Mei kemarin bisa selesai dalam waktu hanya 6 bulan dan 1 minggu. Laporan yang menurut saya adalah rekor dunia penyimpulan investigasi kecelakaan pesawat yang tercepat di dunia ini berhasil mengungkapkan banyak faktor-faktor penyebab yang sangat sepele. Lalu apa yang bisa kita pelajari dan perbaiki dari kejadian ini?

Sepele tetapi mematikan! 
Chart untuk penerbangan Visual Flight Rules
memberikan informasi topografi yang akurat

untuk penerbangan cross-country maupun 

penerbangam di sebuah area.
(Sumber: KNKT) 
Pertanyaan yang sangat sepele yang timbul dari musibah ini adalah, bagaimana awak pesawat bisa sampai tidak mengetahui adanya Gunung Salak? Dari laporan KNKT, terlihat bahwa persiapan demo flight ini kurang dari segi informasi yang diberikan kepada awak pesawat. Rencana awal untuk terbang ke titik di arah 200 sejauh 20 mil laut dari Halim, pada penerbangan pertama tidak disetujui oleh pihak Briefing Office di Halim, dan merubah rencana penerbangan menjadi ke area Pelabuhan Ratu, namun penerbangan pertama hari itu nyatanya hanya mencapai posisi sekitar rencana awal, pada arah 200 dan 20 mil laut dari Halim. Pada perencanaan penerbangan kedua, awak pesawat pun berasumsi bahwa penerbangan akan seperti sebelumnya yaitu mencapai titik yang sama sebelum kembali ke Halim. Namun, pihal Air Traffic Control (ATC) di Tower Halim mendengar percakapan dari staff Briefing Office bahwa penerbangan pertama terjadi diatas “Bogor Area”. Dengan informasi itu, maka pihak ATC Tower Halim berasumsi penerbangan akan dilakukan di “Bogor Area”, dan informasi tersebut disampaikan ke ATC Approach. Disini, timbul 2 persepsi yang berbeda mengenai titik atau area mana saja yang akan dilalui. Pihak ATC berasumsi “Bogor Area”, sedangkan awak pesawat berasumsi 200 sejauh 20 mil laut dari Halim. Kebetulan, titik yang diasumsikan awak pesawat, berada dalam “Bogor Area”. Namun siapa yang menyangka faktor yang sepele ini menjadi salah satu penyebab kecelakaan?

Faktor sepele berikutnya adalah improvisasi tipe pesawat yang dimasukkan ke dalam sistim ATC menunjukkan kurangnya koordinasi antar bagian di pelayanan lalulintas udara kita. Memang improvisasi terpaksa dilakukan, karena tipe pesawat Sukhoi RRJ-95B (nama resmi Sukhoi Superjet) belum ada dalam database ATC kita, dan pihak ATC memasukkan tipe pesawat Sukhoi Su-30 ke sistim. Sayangnya, memang nama pabriknya sama, Sukhoi, tetapi yang satu adalah pesawat penumpang, yang satu lagi adalah pesawat tempur. Siapa yang bisa menyangka bahwa improvisasi ini menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kecelakaan ini?

Peta En-Route chart yang digunakan oleh awak 
pesawat tidaklah cocok untuk digunakan sebagai

sumber referensi topografi karena masalah skala.

Terlihat chart ini juga tidak mencantumkan 
Minimum Off-Route Altitude (MORA). 
(Sumber: KNKT)
Faktor sepele berikutnya adalah masalah chart atau peta yang dibawa oleh awak pesawat. Peta yang dibawa oleh awak pesawat memang ada informasi sederhana mengenai adanya gunung Salak, namun peta tersebut adalah tipe peta yang digunakan untuk terbang antar kota. Pada saat briefing, awak pesawat tidak diberikan peta lainnya yang digunakan untuk terbang rendah di sebuah area ataupun peta yang lebih detail untuk terbang secara visual. Peta yang digunakan informasi mengenai gunung dan dataran tinggi yang ada bisa dibilang hampir tidak berguna untuk penerbangan ini karena skala peta yang digunakan, menghasilkan lokasi Gunung Salak yang lebih jauh dari yang semestinya dan tidak mungkin pula bisa digunakan untuk menghitung sebuah jarak sejauh 20 atau 30 mil laut. Tidak membawa peta yang cocok untuk penerbangan yang akan dilakukan karena peta yang digunakan sudah memiliki informasi dasar mengenai keberadaan gunung dan dataran tinggi, adalah hal yang sepele, dan tetep saja menjadi faktor penyebab.

Ketiga faktor sepele ini, secara masing-masing, tidak mungkin bisa menyebabkan sebuah pesawat yang sedang tidak rusak dan diawaki oleh pilot-pilot yang berpengalaman menabrak gunung. Namun ketika ketiga faktor sepele ini tersusun secara berurutan, maka resiko terhadap si penerbangan nahas tersebut jauh meningkat.

Low-Level En-Route Chart ada yang mencantumkan
MORA serta Training & Restricted Area ketinggian 
rendah. Chart seperti ini akan lebih berguna untuk

melihat kendala topografi dalam melakukan low-level
IFR flight. 
(Sumber: KNKT)
3 hal sepele jika ber-urutan.
Petugas ATC yang sedang mengawasi penerbangan tersebut memberikan ijin pesawat untuk turun dari 10.000 kaki ke 6.000 kaki karena dia menerima informasi bahwa penerbangan akan dilakukan di “Bogor Area”, dimana ada “Atang Sanjaya Training Area” yang memiliki batas atas di ketinggian 6.000 kaki. 

Turunnya pesawat ke 6.000 kaki meskipun kondisi cuaca tidak cerah dan ada gunung di area sekitar dianggap tidak menjadi faktor karena informasi yang ada di layar radar menyatakan bahwa pesawat tersebut adalah jenis Sukhoi-30 yang merupakan pesawat tempur dengan aturan operasi yang berbeda dengan pesawat transport sipil. 

Dengan tidak membawa peta yang lebih cocok untuk keperluan penerbangan tersebut, awak pesawat tidak menyadari seberapa dekat mereka dengan pegunungan terutama dengan gunung Salak atau bahkan tidak tahu akan adanya sebuah gunung di sana.

Lupakan menyalahkan yang sudah mati karena ada PR bagi kita yang masih hidup.
Ketiga hal sepele tersebut telah menjadi fondasi malapetaka yang terjadi pada tanggal 9 Mei 2012. Kecelakaan ini bisa dikategorikan sebagai human error, namun error yang terjadi tidak terbatas pada petugas ATC yang mengawai pesawat tersebut ataupun pada awak pesawat (pilot error). Sebelum kita menyalahkan awak pesawat karena mematikan Terrain Awareness and Warning System (TAWS) saat sistim tersebut memberikan peringatan, atau menyalahkan sang tamu yang menjadi orang ketiga di kokpit pesawat, kita harus ingat bahwa mereka sudah meninggal sehingga kita tidak perlu mencegah mereka lagi dari berbuat kesalahan. 

Namun yang kita butuh lakukan adalah memperbaiki faktor-faktor sepele yang menjadi fondasi malapetaka ini, karena yang memberikan briefing hari itu, yang memasukkan data tipe pesawat ke sistim ATC, dan yang tidak memberikan peta yang lebih cocok untuk penerbangan nahas tersebut, semua masih hidup, dan kita butuh memperbaiki sistim dan kinerja kita dan mereka, agar faktor-faktor sepele ini tidak lagi menjadi fondasi sebuah malapetaka yang mungkin akan terjadi di masa depan.

Catatan:
Laporan Akhir Investigasi kecelakaan RA97004 bisa ditemukan di SINI atau di SINI.

Indonesia Air siap terbang jet berjadwal


A320 Indonesia Air petama, PK-TAA di South Apron Bandara
Halim Perdanakusuma, Jakarta (Foto dari Twitter)



Rencana rute A320 Indonesia Air

Indonesia Air (I8) , yang lebih dikenal sebagai Indonesia Air Transport, siap terbang terjun ke dunia penerbangan jet berjadwal dengan menggunakan pesawat Airbus A320 yang awalnya akan di-base di Bandung. I8 sengaja memilih Bandung sebagai basis operasi jetnya karena Jakarta sudah cukup banyak penerbangan dan juga kekurangan slot ideal untuk pengoperasian penerbangan berjadwal baru.

Pesawat A320 I8 akan memuat 12 kursi kelas bisnis dan 148 kursi ekonomi. A320 pertama (msn 421) yang digunakan sudah diregistrasi ulang sebagai PK-TAA (sebelumnya EI-DNP). Proving Flights sudah dilakukan sejak tanggal 15 Januari dan I8 berencana akan mulai penerbangan berjadwalnya pada akhir bulan.



Indonesia Air bukanlah pemain baru di dunia penerbangan. Perusahaan didirikan pada tahun 1968 dan berpengalaman melayani penerbangan charter untuk sektor pertambangan minyak dan gas. Sejak tahun 2008, I8 juga telah melayani penerbangan berjadwal dari Bali dan Lombok.

Minggu, 07 Oktober 2012

Garuda menerima CRJ-1000NG pertamanya


Sebuah foto mulai bersirkulasi di internet memperlihatkan persiapan acara serah-terima CRJ-1000NG pertama untuk Garuda. Sayangnya, informasi mengenai acara tersebut belum dapat saya temukan.



Pesawat tersebut, beregistrasi PK-GRA akan diterbangkan ke Indonesia dalam waktu dekat dimana jadwal penerbangan untuk CRJ-1000NG dikabarkan sudah dimasukkan ke sistim pemesanan kursi penerbangan untuk akhir bulan ini.

Kamis, 13 September 2012

Qantas mengancam agar kerjasamanya dengan Emirates disetujui

AirDrama: Qantas mengancam Australia
Dalam pengajuannya ke Komisi Kompetisi dan Konsumen Australia (Australian Competition and Consumer Commission (ACCC)) mengenai kerjasamanya dengan Emirates, Qantas menyatakan akan berhenti terbang ke Eropa jika pengajuannya ditolak dan akan hanya fokus menerbangkan rute² yang menguntungkan.

Kelihatannya ancaman tersebut memang wajar, tetapi cara Qantas menggunakan kartu nasionalismenya bisa dianggap konyol:
"Under such a scenario Australians will lose the benefit of Qantas operating a strong locally based international network airline. This is not in the national interest."
"Dengan skenario tersebut (kerjasama dengan Emirates ditolak oleh ACCC), warga Australia akan dirugikan karena Qantas tidak akan lagi menjadi maskapai internasional Australia yang mempunyai jaringan lokal yang kuat. Ini tidak sesuai dengan kepentingan nasional"
Bukannya alasan yang digunakan Qantas dalam pengumuman kerjasamanya dengan Emirates adalah untuk mengurangi kerugian? Mengapa sekarang Qantas malah secara tidak langsung menyatakan, "kalau disetujui, kita akan sedikit mengurangi kerugian, dan jika tidak disetujui, kita akan banyak mengurangi kerugian..."

Qantas seperti jalan tanpa kepalanya..

Lion Air dan Malindo Airways - Maskapai mana yang menjadi sasaran?

AirDrama: Terbawa asyiknya meledek Malaysia Airlines, mungkinkah Air Asia
adalah target serangan Lion Air di Malaysia melalui Malindo Airways?

(Artwork by: Rimanti N)
Setelah Lion Air mengumumkan Malindo Airways kemarin, beberapa pertanyaan timbul di benak pikiran saya:
  • Pemegang saham lokal Malindo adalah National Aerospace & Defence Industries (NADI), sebuah BUMN Malaysia. Mungkinkah NADI mendirikan maskapai penerbangan dengan mitra asing hanya untuk bersaing dengan maskapai BUMN mereka (Malaysia Airlines)? Siapa yang dibidik oleh Malindo? Mungkinkah politisi Malaysia frustrasi dengan di Malaysia Airlines + Firefly yang tidak maju²? Atau mungkin yang dibidik adalah Air Asia (Apa Tony Fernandes telah membuat beberapa politisi Malaysia jengkel)?
  • Dengan meningkatknya kekuatan regional Air Asia, Tony akan harus menghabiskan waktu diluar Malaysia... Dengan makin dekatnya pemilihan umum di Malaysia, mungkinkah 'minggat'-nya Tony Fernandes yang menjadi dasar kekecewaan mereka?
  • Pengumuman Malindo kemarin dihadiri oleh Perdana Menteri Malaysia Najib. Pemilihan umum mendekat, dan Tony Fernandes telah lari ke Jakarta ... Apakah Najib kesal?
  • Dalam waktu 24 jam dari pengumuman Malindo Airways, Lion Air membuka Bandung-Kuala Lumpur yang selama ini adalah salah satu harta-karunnya grup Air Asia. Timingnya memang sedikit mencurigakan.
Air Asia Tony Fernandes kemarin men-tweet:
"I think Malindo is more problematic for Malaysian Airlines not AirAsia. We have very strong position in Malaysia and are really a regional company."
Saya tidak heran membaca dan tidak menyangkal pemikiran tersebut, namun apakah mungkin para politisi Malaysia sudah jenuh akah ledekan terus menerus dari Tony terhadap Malaysia Airlines?

Kebetulan, kemarin, korban ledekan Tony Fernandes yang lainnya, Tiger Airways, mengumumkan hasil keuangan yang melebihi perkiraan. Tiger sendiri sedang mencoba untuk mengkokohkan hasil ekspansinya di Australia, Indonesia dan Filipina. Kucing² besar di Asia Tenggara sudah tidak selemah dulu dan mungkin saja target mereka adalah Air Asia, dan keyakinan Tony akan kekuatan regional mereka membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak mungkin bisa roboh akibat langkah² kucing² besar ini? Apa saya harus menunggu sampai Tony mulai mengeledek Jetstar untuk mengetahui jawabannya? Atau memang sudah jelas jawabannya?

Namun ada satu hal yang saya setuju dengan Tony Fernandes tentang Malindo Air:
"Why is the airline not called Lion Air Malaysian. Strange"

Rabu, 12 September 2012

Livery baru untuk Express Air


Expressair menambahkan armadanya dengan Boeing 737-200 PK-TXK (ex PK-CJJ Sriwijaya Air) yang sedang melakukan overhaul di hangar AeroNusantara Indonesia (ANI). Pesawat ini menggunakan livery baru yang merupakan livery ke-3 Express Air.

Expressair pada saat ini mengoperasikan 737-200, 737-300, 737-500 dan Dornier Do-328.

Mengurangi kerugian dengan mengadakan pesta mewah!

AirDrama: Kisah ulah Qantas berlanjut bagai sinetron belaka...
(Artwork by: Rimanti N)
Keputusan Qantas untuk meninggalkan British Airways dan bekerja sama dengan Emirates dikatakan beralasan "untuk mengurangi kerugian di penerbangan jarak jauh kami"... namun, The Age di Australia mengabarkan bahwa setelah pengumuman tersebut, Qantas dan Emirates mengadakan pesta yang cukup elit, dengan suvenir yang lebih elit lagi...

"But the biggest enigma lay within the goodie bag handed out to the needy throng. Guests got travel guides, a passport folder and a bottle of bubbly - and not just any old plonk, but Taittinger's 2000 vintage Comtes de Champagne, which fetches $320 to $350 a bottle.
So who paid for all this largesse? "It was a joint venture," a Qantas spokeswoman said. "Both Emirates and Qantas contributed to that goodie bag."

Ma'af, tadi alasan Qantas apa? Untuk mengurangi kerugian?

Selasa, 11 September 2012

Malindo Airways - Lion Air mengaum di negeri jiran!

Lion Air dan National Aerospace & Defence
Industries Malaysia bekerjasama untuk membuka
maskapai Malindo Airways di Malaysia

Lion Air hari ini mengumumkan kerjasamanya dengan National Aerospace & Defence Industries Malaysia untuk bersama membuka maskapai penerbangan Malindo Airways.

Rangkuman yang didapatkan dari sumber² yang menghadiri acara di Kuala Lumpur tersebut:
  • Malindo akan memberikan pelayanan hybrid (antara LCC dan full service carrier).
  • Malindo will provide a hybrid service (between LCC and full service carrier).
  • Malindo akan beroperasi dari KLIA2 yang sedang dibangun di Bandara Kuala Lumpur atas permintaan Air Asia Malaysia.
  • Malindo akan mulai beroperasi di bulan Mei 2013 dengan 12 737-900ER dengan 12 kursi bisnis dan 168 kelas ekonomi, dan dilengkapi dengan In-Flight Entertainment dan WiFi.
  • Malindo berencana menambah armada sebesar 12 pesawat per tahun dan akan mengoperasikan 100 pesawat dalam jangka waktu 10 tahun.
  • Pesawat Boeing 787 akan digunakan mulai dari tahun 2015.
  • Harga tiket dan layanan lainnya ditargetkan tidak lebih mahal atau akan lebih murah dibanding Air Asia.

Secara tidak langsung, kita bisa menafsirkan yang berikut untuk/mengenai Lion Air:
  • Lion Air melihat bahwa pertumbuhannya di Indonesia akan terbatas dan lamban karena infrastruktur dan prasarana yang kurang, seperti habisnya tempat parkir pesawat di kebanyakan bandara (yang bisa menampung pesawat jet) di Indonesia.
  • Lion Air masih harus menerima BANYAK pesawatnya yang dipesan dan sulit untuk delivery-nya ditunda. Pesawat² ini harus digunakan, dan akan dialihkan untuk membangun Malindo dan Batik Air.
  • Sebagian dari 787 yang dipesan untuk Batik Air kemungkinan akan digunakan oleh Malindo, sedangkan Lion sedang menegosiasikan penambahan pemesanan 787.
  • Lion Air melihat bahwa pertumbuhan yang cepat hanya bisa dilakukan diluar Indonesia, dan Lion Air sudah lama mengetahui ini dan sering berencana untuk membuat anak perusahaan atau kemitraan dengan pihak lain untuk membuat maskapai penerbangan di negara lain. Namun selama ini rencana² tersebut gagal (menurut pendapat saya, dikarenakan pemilihan partner² yang kurang/tidak tepat) dan Malindo merupakan rencananya yang paling realistis hingga saat ini.
  • Pertumbuhan di sektor premium melalui Batik Air tidak akan bisa secepat yang diinginkan, lagi², dikarenakan keterbatasan infrastruktur yang ada di Indonesia.
  • Pengumuman ini secara efektif mengakhiri spekulasi yang timbul sebelumnya bahwa Lion Air berencana untuk bekerjasama dengan Berjaya Air Malaysia untuk membuat Lion Berjaya Air (dan setahu saya, rencana Lion Air Australia yang diumumkan sebelumnya pun sudah batal namun tidak menutup kemungkinan Lion masih berencana untuk masuk ke pasar domestik Australia).

Efek ke pihak Malaysia:
  • Air Asia Malaysia sekarang mendapat kompetisi yang serius. Sumber² di dalam Air Asia mengabarkan bahwa Tony Fernandes tidak khawatir dengan Lion Air di Indonesia, namun melihat ancaman serius dari pengembangan bisnis non-LCC yang direncanakan oleh Lion Air (seperti Malindo dan Batik Air).
  • Firefly harus mengambil strategi yang jelas dan tidak terus me-rubah² rencana strategi mereka. Strategi bingung mereka antara memilih perkembangan jangka panjang denganjet, propeller, atau dua²nya selama ini hanya membuat mereka dekelilingi oleh Air Asia, dan dengan adanya Malindo nantinya, Firefly bisa saja menjadi pihak yang paling dirugikan (atas salahnya sendiri).
  • Tantangan bagi Malaysia Airlines menjadi jauh lebih berat dengan adanya Malindo. Pada saat ini mereka sedang was² dengan perkembangan rencana mereka untuk bergabung dengan aliansi OneWorld yang di sponsori oleh Qantas, karena Qantas minggu lalu memutuskan untuk berhenti bekerjasama dengan British Airways (yang juga anggota OneWorld) dan pindah ke Emirates. Tentunya segment pasar atas mereka akan terus tergerogoti oleh strategi regional Qantas di Asia, dan datangnya Malindo hanya akan menambah beban dan tangtangan di kandang mereka sendiri.


Dalam beberapa tahun kemarin, Lion Air memang telah banyak mengumumkan rencana² joint-venture atau membangun anak perusahaan diluar Indonesia, dan tidak ada satupun yang berhasil. Malindo merupakan langkah paling berani dalam aspek ini, dan kali ini didukung oleh partner lokal yang bonafit yaitu NADI yang merupakan salah satu perusahaan strategis Malaysia, dan acara pengumuman tersebut pun didukung oleh kehadiran perdana menteri Malaysia, Najib.

Sepertinya kali ini, Singa yang satu in benar² serius untuk keluar dari kandangnya dengan rencana yang cukup matang.

Bye Bye Baby!

bmibaby memilih menghentikan operasi setelah rugi bertahun-tahun dan pergantian kepemilikan perusahaan induknya.


Pesan terakhir si Tiny, logo dan mascot bmibaby.
Baby pertama kali mengudara di rute East Midlands - Malaga 10 tahun 9 bulan silam dan cukup pantas manajemen Baby memilih pendaratan terakhirnya dengan rute Malaga - East Midlands.

bmibaby selalu mengakhiri slogan promosi mereka dengan ".. baby!"
Meskipun terus merugi, Baby meninggalkan industry ini dengan kesan yang baik dan teratur daripada memilih alternatif ngotot berupaya terus untuk survive yang kemungkinan besar hanya akan berujung ke penutupan dadakan yang mengakibatkan banyak penumpang terdampar di berbagai kota tujuannya. Paling tidak, Baby meninggalkan kesan yang baik.

Keberangkatan kedua dari yang terakhir untuk Baby dari EMA,
dilakukan oleh "rainbow baby", dengan co-pilot mengajak si "Tiny"
melihat para spotters melihatnya untuk terakhir kali.
(Photo oleh: Tom Smith)
bye bye, Baby!

Lomba Rute Kanguru aliansi OneWorld semakin seru!

AirDrama: Lomba Rute Kanguru makin seru dengan... Unta!
(Klik gambar untuk ukuran besar. Artrwork by: Rimanti N)

Rute Kanguru dari Inggris ke Australia memang susah untuk bisa didominasi. Rute tersebut dianggap sebagai rute elit yang menggambarkan dominasi Britannia era dahulu dimana wajar kalau maskapai yang mendominasi rute tersebut adalah British Airways dan Qantas. Namun, sebenarnya rute tersebut sekarang didominasi oleh Singapore Airlines dan Emirates.

Posisi Qantas untuk rute² Australia-Eropa terus melemah dan sekarang hanya Frankfurt dan London yang tersisa. "Pembantaian habis" mungkin adalah istilah yang cocok untuk menggambarkan serangan Emirates dan Singapore Airlines terhadap rute² Eropa Qantas. Rute London lebih sengit karena ada Cathay Pacific dan Virgin Atlantic yang ikut dengan rute LHR-HKG-SYD. Sedangkan, tetangga dan lawannya Emirates, Etihad, sudah menggandeng Virgin Australia untuk memberikan Etihad akses ke pasar Australia dengan 'jalan pintas'.

Posisi Qantas di Eropa bisa dianggap tidak bisa lagi diharapkan. Qantas tidak bisa meminta bantuan dari Cathay karena anak perusahaan Qantas, Jetstar, sedang berencana untuk mulai beroperasi dengan base baru di Hong Kong. Mungkin Cathay akan dengan mudahnya menawarkan bantuan dengan kondisi Jetstar Hong Kong dibatalkan.

Jadi, lagi² Qantas melakukan hal yang tidak diduga. Minggu lalu, dengan alasan "untuk memangkas kerugian di penerbangan jarak jauh" (dan selagi tidak ber-main² menggunakan Jetstar), Qantas mengumumkan mereka menghentikan kerjasama mereka dengan British Airways, dan menjalin kerjasama untuk rute² Eropa dengan Emirates. Ini benar² mengikuti pepatah kata:
If you can't beat them... join them...
Tetapi, ini menimbulkan masalah persepsi, terutama terhadap aliansi OneWorld:
  • Qantas berencana untuk memindahkan scissor-hub rute Eropa mereka dari Singapura ke Dubai. Ini berarti bahwa Singapore Airlines (dan Star Alliance) sekarang bisa merajalela di rute Kanguru tradisional (London-Singapura-Sydney), dan OneWorld tidak akan lagi memiliki kekuatan besar di Singapura.
  • Qantas mengalihkan aliansi rute² Eropa mereka ke musuh besar British Airways, Emirates, yang memilih untuk tidak ikut aliansi manapun. Ini tentunya membuat British Airways kesal.
  • Kerjasama antara Etihad dan Virgin Australia sekarang bisa menjadi masalah bagi Etihad atau aliansi OneWorld karena Etihad memegang 29% saham Air Berlin, anggota terbaru aliansi OneWorld yang sedang mengalami kerugian besar dan sangat tergantung dengan Etihad untuk masa depannya.
  • Etihad kemungkinan akan mengkonsolidasi kerjasamanya dengan Virgin Australia sebagai reaksi dari rencana Qantas/Emirates dan ini bisa mengurangi fokus dan sumber daya yang dibutuhkan oleh AirBerlin.
  • Malaysia Airlines disponsori oleh Qantas untuk masuk ke aliansi OneWorld, dengan harapan mereka bisa melakukan kerjasama besar²-an dengan Qantas, dan tetap gigih untuk mempromosikan Kuala Lumpur sebagai hub alternatif rute Kanguru bagi OneWorld dan tentunya Malaysia Airlines akan terus berupaya untuk menjadi pemain rute Kanguru yang kuat. Jika aksi Qantas ini mengakibatkan dirinya keluar dari OneWorld (kemungkinannya rendah, tetapi konsistensi Alan Joyce bisa dianggap seperti itikad baiknya Michael O'Leary), Malaysia Airlines bisa ditolak ikut OneWorld.

TAPI, apakah semuanya seburuk ini? British Airways bisa saja menjalin kerjasama dengan Malaysia Airlines untuk mempertahankan keberadaannya di rute Kanguru, atau bekerja sama dengan Cathay Pacific untuk ber-sama² menghancurkan petualangan rute Kanguru si Virgin Atlantic... tetapi, inilah bagian terakhir dari kejadian berantakan ini...
  • British Airways bereaksi dengan memulai pembicaraan kerjasama dengan Qatar Airways. Qatar Airways sendiri berambisi untuk mengalahkan Emirates yang berarti Qatar Airways juga berencana untuk mendominasi rute Kanguru dan juga mendominasi dunia.

Anda bingung? Tenang, anda tidak sendirian. Anda tidak usah khawatir, orang Australia dan unta bukanlah kombinasi yang baru (di Australia banyak unta impor dari Timur Tengah), dan expat Inggris di Timur Tengah banyak yang menganggap menunggangi unta sebagai inisiasi mereka sebagai expat disana.

Kesimpulannya, lomba rute Kanguru di aliansi OneWorld telah berubah menjadi lomba pacu unta!

Di versi Bahasa Inggris, ada "caption competition", silahkan baca di:

Mengenai Ilustrasi diatas:
Saya meminta bantuan dari Rimanti N untuk membuat ilustrasi AirDrama diatas. Rimanti adalah seorang mahasiswi DKV yang sedang mengerjakan proyek komik mengenai industri penerbangan/airline (dimana saya berperan sebagai penasehat industri di proyek tersebut), dan sudah pernah menerbitkan komiknya sendiri sewaktu di SMA. Selain menghasilkan karya seni dan komiknya, dia adalah seorang penggemar industri penerbangan. Follow Rima di @rimanti_n atau klik: 
http://rinota.deviantart.com
http://reachingtheskyofdreams.blogspot.com/
http://www.pixiv.net/member.php?id=2300458

Senin, 10 September 2012

Anda bodoh, anda bayar!

CEO Ryanair, O'Leary, yang terkenal dengan omongan-
omongannya yang kontroversial.

Semua orang tahu bahwa CEO Ryanair, O'Leary, seringkali blak-blak-an ucapannya. Namun sebelum anda mau complain mengenai dia di media sosial, coba pikirkan ulang.

Seorang ibu dari 2 anak, Suzy McLeod diharuskan membayar GBP 236 untuk mencetak boarding pass di bandara agar keluarganya bisa terbang pulang. Setelah tiba dirumah, dia menulis ke O'Leary untuk meminta kembali uang tersebut sebagai "itikad baik." O'Leary membalasnya dengan menulis, "Terima kasih Ny. McLeod, tetapi itu adalah kebodohan anda sendiri." Merasa tersinggung, Ny. McLeod menuliskan hal ini di Twitternya, dan lebih dari 350,000 orang di Facebook dan Twitter mendukungnya karena "telah diperlakukan secara tidak adil."

Saya pribadi tidak begitu suka dengan O'Leary ataupun "biaya-biaya tambahan" a la Ryanair yang dianggap menakjubkan oleh berbagai pihak, namun untuk meminta kembali biaya tersebut sebagai itikad baik, dimana biaya itu timbul karena kesalahan anda sendiri, lalu menuliskannya di media sosial sebagai "ketidak-adilan" bisa dibilang sangatlah "Bodoh". Apakah keluhannya karena biaya tersebut tidak mau dikembalikan atau karena memang O'Leary terlalu blak-blakan?

Meskipun saya tidak suka dengan Ryanair, saya disini melihat mereka tidak salah. Mereka berbisnis untuk mencari uang dengan mengangkut anda dari A ke B sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan yang disetujui. Biaya-biaya tambahan yang dianggap tersembunyi pun punya halaman sendiri di website Ryanair, "Bagaimana menghindari biaya-biaya tambahan?" Masih kurang kah?

LCC tidak selalu berarti harga tiket murah di setiap saat untuk semua penerbangna... dan jika harganya sangat murah, pihak maskapai harus mencari keuntungan dari cara lain atau tiket-tiket lainnya. Namun memang tidak ada salahnya jika O'Leary sekali-sekali memilih untuk bungkam daripada membuka mulutnya, meskipun dia benar.

Minggu, 09 September 2012

787 pertama Air India telah di-deliver!

787 pertama Air India mendapatkan hormat kanon air setelah
mendarat di Bandara Indira Gandhi International, New Delhi

Setelah mereka ngedumel mengenai 777 sebagai pesawat yang boros bahan bakar sambil menunda delivery 787 mereka karena tidak adanya dana, dan alasan-alasan lainnya...

Akhirnya, 787 pertama Air India berhasil di deliver.


Pertanyaannya sekarang adalah, berapa lama sebelum Air India bisa mencari alasan untuk ngomel mengenai 787 nya demi mendapatkan kompensasi dari Boeing?

Pernahkah Garuda di tes bahasa Inggris?


Kesalahan Bahasa Inggris terus menghantui Garuda
Meskipun terus berupaya untuk menjadi maskapai bintang 5, masukke SkyTeam alliance, dan menghasilkan turnaround yang menakjubkan di Garuda, masih ada saja kebiasaan yang susah dibinasakan. Salah satu aspek problem berkelanjutan di Garuda adalah: BAHASA INGGRIS!

Saya disini tidak berencana untuk membahas bahasa Inggris awak kabin Garuda, yang benar atau salahnya tergantung dengan senioritas anda dicampur dengan mental "Saya sudah 20 tahun mengerjakan ini, kamu tau apa?" (tentunya dengan bahasa Inggris yang salah seperti "I have do this been 20 years, that you know newbie?" (saya 20 tahun sudah mengerjakan ini, tahu kamu apa anak baru?) dan bukan "I've been doing this for 20 years, what do you know newbie?" yang lebih tepat). Tidak! Saya akan membahas dosa bahasa yang lebih besar, MARKETING ENGLISH a la Garuda.

Tadinya saya kira ini cuman main-main, ternyata...
Dare to against the current - MAKSUDNYA APA INI? Pertama kali saya melihat halaman web tersebut, saya langsung  berfikir narkoba apa yang mereka konsumsikan saat menulis materi promo tersebut? Niatnya menulis "Berani Lawan Arus", alhasil salah tertulis dibahasa Inggris menjadi "Nantang ke lawan si arus?" Semestinya yang digunakan adalah "Dare to go against the flow"

Tentunya versi Bahasa Indonesianya benar.
Saya sudah tidak bisa menghitung lagi berapa banyak kesalahan bahasa Inggris yang pernah dilakukan oleh "maskapai pembawa bendera bangsa berbintang 4" ini, hingga titik dimana saya mulai merasa malu sebagai bangsa Indonesia, jadi, kenapa tidak saya catat saja kesalahan-kesalahannya?

Links:

Minggu, 08 Juli 2012

CRJ1000NG pertama untuk Garuda

CRJ1000NG pertama untuk Garuda (akan diregistrasikan 
sebagai PK-GRA) diperlihatkan di pabrik Bombardier di
Montreal Dorval.
Bombardier akhirnya memperlihatkan CRJ1000NG pertama untuk Garuda kepada reporter dan analyst pada tur preview Farnborough Airshow pada 19 Juni 2012.

Pesawat yang baru selesai proses pengecetan ini terlihat tanpa mesin. Mau lihat pesawat ini dengan mesin? Silahkan ke Farnborough Airshow!

Kamis, 21 Juni 2012

Pesawat Fokker 27 TNI-AU jatuh dekat Halim Perdanakusuma

Update 20120621/1230UTC
Update 20120621/1240UTC
Pesawat terlihat miring tajam sebelum jatuh
(Foto oleh: Pasya)

Seorang saksi mata mengatakan pesawat sepertinya jatuh setelah melakukan pembatalan pendaratan (go-around). Saksi tersebut (mantan mahasiswa penerbang) mengatakan bahwa pada ketinggian rendah sayap kiri pesawat turun hingga hampir menyentuh tanah, lalu pesawat recover dan melakukan pembatalan pendaratan. Namun perubahan arah yang terjadi akibat kejadian tersebut mengakibatkan pesawat terbang sangat dekat dengan Control Tower dan pesawat pun menghindar tabrakan dengan berbelok tajam, lalu jatuh di kompleks perumahan LanUd Halim. CATATAN: INFORMASI DARI SAKSI INI BELUM DI VERIFIKASI SECARA INDEPENDEN!

Beberapa rumah terjilat kobaran api setelah pesawat jatuh
(Sumber: Ahmad)
Pesawat jatuh ke kompleks perumahan di sisi utara bandara dan menghancurkan/merusak 6-8 rumah lalu terbakar. Sebelum pesawat jatuh, terlihat pesawat sedang berbelok tajam dengan kedua mesinnya menyala/berfungsi. Namun ada kabar angin bahwa pesawat mengalami gangguan mesin (engine failure) dan propeller tidak bisa di-feather, tetapi belum diketahui kapan terjadinya gangguan tersebut dalam tragedi ini.

Cuaca di Halim (METAR terakhir adalah untuk jam 9 pagi waktu setempat: WIHH 210200Z 00000KT 5000 HZ NLC 28/23 Q1013 NOSIG) tidak deketahui persis namun kondisi cukup cerah untuk melakukan penerbangan Visual Flight Rules dengan jarak pandang diatas 5 kilometer dan tidak ada angin rendah. Sekitar 1 jam sebelum kecelakaan, sayapun melihat sebuah C-130 Hercules TNI-AU melakukan sirkuit tinggi di sisi barat Halim.

Beberapa foto yang sudah bersirkulasi di internet:


(Sumber: Tidak diketahui)