| Ini adalah Blog Indonesia saya | Blog Inggris | Blog Non-Serious |
| This is my English Blog | English Blog | Non-Serious Blog |
Tampilkan postingan dengan label social media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label social media. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Mei 2012

Cathay Hospitality: Lounge, Klout, dan otak iseng saya!



Dalam upaya bisa "memerah" naik pamornya media sosial internet, anda sekarang bisa menggunakan lounge Cathay Pacific di Bandara Internasional San Francisco menurut artikel blog kawan saya, Klout your way to the Cathay Pacific lounge at San Francisco International Airport. Yang anda butuhkan hanyalah score Klout diatas 40.


Lounge Cathay di SFO (Photo: TravelWeeklyAsia via UXMilk/@9VSKA)
Sepertinya Cathay ingin memasarkan brand nya kepada pengguna aktif media sosial. Menurut Klout, nilai rata² hanyalah 20. Nilai diatas 20 berarti orang tersebut lebih mempengaruhi kawan²nya daripada dipengaruhi oleh mereka. Hal ini mirip dengan menggunakan selebriti ataupun orang "penting" untuk memberikan testimoni untuk sebuah produk.

Maslaahnya, orang yang memiliki nilai Klout diantara 20 dan 60 rata² adalah "pecandu" media sosial dan mereka cenderung juga mengikuti pecandu lainnya, dan kabar/berita akan tersebar dengan cepat... termasuk kabar buruk, plintiran, dan lain². Kebetulan, pada saat saya membaca artikel tersebut di blog UXmilk, saya juga sedang melihat Facebook saya dan menemukan foto ini lengkap dengan keterangan pengantar sebagai berikut:

CX Hospitality in CGK:
First Class: To the left, through the air bridge and into the cabin, please.
Business Class: To the left, through the air bridge and into the cabin, please.
Economy Class: Get the f*** out, through that door, wait on the tarmac and be patient!
(Serius lho! Caption nya persis dengan yang ada di Facebook seseorang penumpang CX)
Saya tahu foto itu hanyalah sebuah guyonan yang kebetulan diakibatkan posisi papan tersebut, namun saya membayangkan bagaimana jika seseorang alay-desperate-mencari-pengajuan-eksistensinya-di-media-sosial, baru mengetahui program kerjasama antara Klout dan lounge Cathay Pacific pada saat melakukan perjalanan dari San Francisco ke Jakarta, dan memutuskan untuk menge-tweet apapun selama perjalanan dan kunjungannya, demi meningkatkan nilai Klout-nya, lalu ditendang keluar dari garbarata melalui pintu tersebut ke apron, dan disuruh menunggu tanpa kejelasan. Saya jamin, nilai Klout-nya akan langsung melejit dengan tweet berisikan pengalamannya, dan lounge Cathay di San Francisco akan langsung dipenuhi oleh penumpang non-Cathay dan non-OneWorld!


Sebelum anda berpikir bahwa saya serius... TENTU SAJA SAYA HANYA GUYON! Saya berharap kerjasama antara Cathay dan Klout untuk akses ke Lounge nya akan diadakan di kota² lain, meskipun saya biasanya tidak terbang menggunakan airline dari aliansi OneWorld... dan saya tentunya memilih untuk memperlihatkan nilai Klout saya untuk bisa masuk ke lounge tersebut daripada harus mengeluarkan uang yang banyak sekali untuk terbang menggunakan first class atau business class, atau membayar biaya masuk agar bisa menikmati "exclusive airline lounge" yang sudah tidak begitu eksklusif lagi karena saya bisa masuk dengan membayar entry fee tersebut... Namun kebanyakan dari yang saya kenal yang ikut dengan Klout, nilainya diatas 40... jadi, ini membuat lounge-nya lebih tidak eksklusif lagi dibanding dengan yang bisa diakses dengan membayar Rp. 100.000 entry fee!!!!

Minggu, 13 Mei 2012

Musibah SSJ100: Catatan pribadi hari ke-4


Tampil di Berita Satu hari ini, sayangnya beberapa
media memilih menampilkah "pakar instan" atau yang
memuntahkan hal² yang tidak masuk akal!

Hari sabtu kemarin saya akhirnya cukup bebas dari kejaran media. Akhirnya saya bisa beristirahat dan sempat juga hadir di rapat kerja meskipun ini adalah weekend, yah pekerjaan saya tidak boleh ketinggalan!


Namun saya tetap mengeluh, beberapa hari terakhir ini sungguh meletihkan. Selain masalah pekerjaan, saya juga menganalisa kecelakaan ini, terutama seputar pertanyaan, "Kenapa dia turun?" dan "Kenapa ATC mengijinkan dia untuk turun?" Jawaban kedua pertanyaan ini akan saya muat di artikel yang lain.


Namun hari ini ini, TV BeritaSatu memanggil saya untuk hadir kembali untuk membahas pesawat Sukhoi Superjet 100 ini, dan juga sedikit² mengenai kecelakaan ini.


Ketika saya menceritakan hal ini ke istri saya (dimana setiap kali ada interview dia harus mengalah, meskipun saya dirumah), dia tanya, "Memang dunia ini sudah kehabisan pakar dan pengamat yang bisa ngomong masalah ini?"


Sebelum saya bisa menjawab, dia menoleh ke layar televisi dimana seorang "pakar instan" sedang me-ngoceh sampah di TV. Lalu dia berkata, "Pantesan..."


Kecelakaan ini menimbulkan banyak pertanyaan dan diskusi dikalangan penggemar penerbangan di Indonesia, dan kawan saya yang juga mengatur account twitter @indoflyer bertanya:
#indoflyer #sharing, seberapa objektifkah media massa dalam meliput kecelakaan penerbangan? Share your thought with #indoflyer hastag.
Saya merasa harus menjawab pertanyaan tersebut:
@indoflyer #indoflyer objektifitasnya terganggu karena ber-tahun2 pembodohan masyarakat mengenai kecelakaan penerbangan.
Maklum, kita sudah capek mendengan statement² aneh² dari beberapa kalangan sampai 5 tahun terakhir dimana FAA akhirnya memvonis Indonesia sebagai negara Kategori Keselamatan II, dan EUETC menerbitkan larangan ke semua maskapai Indonesia dari airspace Uni Eropa.


Saya lanjut...
#indoflyer: Gangguan terbesar dlm mslh berita kecelakaan pesawat: masih banyak kutu busuk yg seneng menyesatkan org dgn berita2 palsu!
Berita palsu kecelakaan pesawat bukanlah hal yang baru. Ingat kejadian Adam Air 574? Ingat berita² palsu yang aneh² dari pesawat ditemukan dimana, sampai ditemukannya korban kecelakaan yang masih hidup, dan lain²? Kali ini malah ada yang mengatakan ponsel penumpang pesawat Sukhoi masih nyala lah, pesawat ada di Gunung Pangrango lah, sampai ada yang menuduh SAR lamban dan akan bertanggung jawab atas kematian korban hidup yang akhirnya meninggal lah...


Belum lagi foto² yang cepat beredar sebagai "foto dari tempat crash", tapi isinya gambar sayap Airbus A321 milik AirBlue yang menabrak gunung di Pakistan belum lama ini. Barusan, saya juga dengar ada foto² korban kecelakaan yang akhirnya ditemukan sebagai hoax! Akun Twitter si penyebar asal foto² tersebut sekarang telah di-suspend, dan Polisi sedang mempersiapkan aksi proses hukum pidana bagi si pelaku.

Namun, media² di Indonesia juga memiliki masalah lain:
#indoflyer: Kurangnya praktisi/pengamat independen yg mengerti penerbangan = kebutuhan informasi dr sumber independen tdk dpt dipenuhi!
#indoflyer: utk kecelakaan, kalangan profesi maskapai, operator dan regulator harus menjaga kode etik mengenai info kecelakaan penerbangan.
#indoflyer: kode etik & peraturan tempat kerja= membatasi info yg bs disampaikan ke media masa & masyarakat. Sumber independen dibutuhkan!
#indoflyer: krn itu, setiap ada kecelakaan, media kekurangan sumber opini independen yg credible! Hasilnya, "pakar instan" yg pada nongol!
Lalu ada yang menge-tweet:
@(identitas disamarkan) Tunggu investigasi bagusnya pak, cuma black box jangan keluar lah, di indo aja biar jelas
Dimana saya menjawab:
#indoflyer menunggu hsl resmi itu baik, tp tdk menjwb kebutuh masyarakat yg ingin tahu & khawatir. Ttpi, spekulasi ngawur jg sgt tdk baik!
Dan saya memberi contoh, kasus saya sendiri:
#indoflyer: sy ingin tahu knp teman saya meninggal di pesawat tsb tanpa hrs nunggu 1thn, ttp saya tdk ingin diberikan penjelasan asbun!
Saya yakin BANYAK yang sependapat dengan saya masalah ini. Kerabat dan sanak saudara dari yang meninggal, membutuhkan jawaban cepat, namun tidak harus jawaban yang lengkap, tetapi jawaban yang diberikan haruslah yang masuk akal. Ini artinya, jangan berikan mereka jawaban/opini yang asbun!!!


Kurang pahamnya media mengenai penerbangan buat saya cukup mengkhawatirkan. Salah satu episode konyol yang terjadi adalah sewaktu pesawat 737 Adam Air melakukan hard landing di Surabaya mengakibatkan badan pesawat bengkok patah. Media² awalnya mengabarkan kabar yang tepat, bahwa ada pesawat melakukan pendaratan yang keras hingga badan pesawat rusak (dan beberapa menyatakan ada kecelakaan ringan, yang betul juga). Namun, pihak airline membantah meskipun diberi lihat foto pesawat 737-300 tersebut dengan punggungnya yang bengkok patah. "Cuman bengkok saja kok, gak apa apa!" Yang menyedihkan dari ini semua, beberapa media, menerima penjelasan tersebut. Namun, ketidak pahaman media tidak hanya untuk berita² buruk, berita² bagus pun, mereka bisa percaya apa saja yang diomongkan pihak airline (meskipun kadang² benar² tidak masuk akal apa yang dibicarakan!).


Apakah masih ada harapan? Tentu saja! Namun ketika saya membaca salah satu artikel yang menyatakan pesawat Sukhoi tersebut jatuh "karena kehabisan bahan bakar", dimana mereka mengutip Direktur Jendral Angkutan Udara, yang menjelaskan bahwa pesawat dinyatakan hilang dan kemungkinan besar jatuh, setelah pesawat belum ditemukan ketika kemampuan waktu jelajah pesawat tersebut telah habis, dan artikel tersebut menyimpulkan, "jadi karena itu, pesawat jatuh karena kehabisan bahan bakar," saya merasa, mungkin kita sudah kalah di perang ini!


Namun meskipun saya complain dan nge-dumel di artikel ini, saya berterima kasih bahwa saya bisa berteman dengan beberapa dari (yang menurut saya adalah) jurnalis penerbangan terbaik dan sosialita media sosial penerbangan terbaik di dunia, dan bahwa beberapa media yang memang mencari objektifitas masih menghubungi saya untuk opini dan pandangan wawasan saya. Tidak! Kita belum kalah dalam perang ini!

Senin, 12 Maret 2012

KLM dan upaya membuat Social Media mereka relevan bagi penumpang!


Sudah cukup banyak kita melihat airline bikin account di Twitter dan Facebook agar eksis di dunia social media, namun banyak yang gagal dalam upaya mereka menjadi relevan bagi penumpang mereka dan masyarakat secara menyeluruh. Dengan makin maraknya social media apa yang harus dilakukan airline² agar upaya social media mereka benar² terasa dan relevan bagi penumpang mereka?

Inilah yang dilakukan KLM di musim dingin 2010:


Kesimpulan KLM dalam "social media experiment" mereka patut kita simak:
Di era social media, melakukan sesuatu yang membawa senyum nyata di wajah seseorang, jauh lebih asyik dibanding dengan hanya memasang smiley. Namun yang paling penting adalah memang sangat mungkin bagi sebuah airline untuk menggunakan social media untuk membuat kejutan dan membuat  kesan berbeda bagi seorang penumpang dalam melakukan perjalanannya, dan kita mengatakan ini bukan sekedar menebak², kita mengetahui itu, karena mereka yang memberi tahu kita, dan teman² mereka, berkali-kali!
Dengan mengejutkan beberapa penumpang dalam eksperimen tersebut di musim dingin 2010, mereka menghasilkan lebih dari 1 juta kesan (impression) di Twitter. Lumayan kan!


Sepertinya KLM meneruskan program Surprise mereka hingga musim panas 2011, namun di situs http://surprise.klm.com , sepertinya aksi mereka terkhir terjadi di 18 Agustus 2011.  Saya penasaran, apakah program Surprise ini masih jalan?